July 3, 2022

Artha Zone

Created & modified by m1ch3l

Lari dalam Senyap agar seperti Pelari Elite

Sejumlah pelari berolahraga di kawasan Sudirman Central Business District, Jakarta, Minggu (15/11/2020) pagi. Beberapa dari mereka adalah pelari virtual Borobudur Marathon 2020.

Oleh  SEKAR GANDHAWANGI
   ·   4 menit baca
Di tengah deraan pandemi, peserta Borobudur Marathon 2020 Virtual Run mulai berlari, Minggu (15/11/2020) pagi. Walau tanpa euforia seperti acara di tahun-tahun sebelumnya, mereka bertekad lari hingga finis.

JAKARTA, KOMPAS — Bukan hanya pelari elite Borobudur Marathon 2020 yang start dan finis pada Minggu (15/11/2020) pagi di Magelang, Jawa Tengah. Para pelari virtual turut start sejak pagi di kota masing-masing. Mereka berharap bisa terhubung dengan keseruan yang seharusnya terjadi di ajang tahunan ini.

Satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya…. Orang-orang dengan jersei merah Borobudur Marathon 2019 satu per satu melintas di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta, Minggu pagi. Belum jelas mereka ikut ajang lari virtual Borobudur Marathon tahun ini atau tidak. Tidak terkejar untuk diwawancara!

Beberapa belas meter di seberang jalan, ada seseorang dengan bib atau nomor lari Borobudur Marathon 2020 di pakaiannya. Dia mengenakan bib warna biru yang berarti sebagai peserta kategori setengah maraton dengan panjang lintasan 21,095 kilometer. Sekali lagi, orangnya tidak terkejar.

Kendati demikian, kawasan SCBD memang dijadikan rute lari bagi peserta Borobudur Marathon 2020 Virtual Challenge. Kawasan ini relatif teduh dengan elevasi yang cenderung datar. Suasananya nyaman untuk berlari. Itu pula yang dirasakan karyawan swasta di Jakarta, Risky Samiono (38). Risky berlari sebelum pukul 06.00, kemudian finis dengan catatan waktu 2 jam 10 menit 55 detik. Ia mengikuti nomor lari setengah maraton.

Risky Samiono (38), peserta lari virtual Borobudur Marathon 2020, menunjukkan nomor lari atau bib miliknya, Minggu (15/11/2020), di kawasan SCBD, Jakarta. Ia adalah satu dari sekian banyak peserta Borobudur Marathon 2020 yang berlari di kawasan itu.

 

Risky merupakan satu dari 9.000-an peserta Borobudur Marathon 2020 yang berlari virtual. Mereka dapat berlari di kota domisili masing-masing pada 15-30 November 2020. Sementara itu, sebanyak 30 pelari elite berlari di Taman Lumbini, kawasan Candi Borobudur, Magelang, hari Minggu ini.

”Karena ini ajang lari virtual, suasananya kurang (meriah dibandingkan Borobudur Marathon tahun lalu). Padahal, tahun lalu seru sekali karena ada cheering (dukungan) dari masyarakat Magelang di sepanjang rute. Semangat saya ikut terpompa karena mereka,” tutur Risky.

Suasana lari virtual ia nilai sepi dan cukup membosankan. Risky yang semula berlari dengan dua teman akhirnya harus berlari sendiri hingga finis. Mereka pisah jalan di tengah rute karena ingin mengejar catatan waktu terbaik masing-masing. ”Ya, ini membosankan. Tapi, saya terus berpikir bahwa saya ingin finis,” kata Risky.

Lari pagi

Walau suasana ajang lari virtual relatif senyap, Risky tetap bangun pagi dan mulai berlari di hari pertama Borobudur Marathon 2020 Virtual Challenge. Menurut Risky, cara ini membuat ia dekat dengan suasana Borobudur Marathon ”yang sebenarnya”.

Peserta lari virtual Borobudur Marathon 2020, Kankan Iskandar (46), berlari mandiri di Tasikmalaya, Jawa Barat, Minggu (15/11/2020). Ia mendaftar di nomor maraton penuh dan berencana menyelesaikan 42,195 kilometer dalam beberapa kali lari.

 

Hal serupa dilakukan pelari dari Tasikmalaya, Jawa Barat, Kankan Iskandar (46). Ia sengaja bangun pagi dan berlari sejak pukul 05.00. ”Biar seperti pelari elite,” katanya sambil terkekeh. Kankan yang mengikuti nomor maraton penuh berencana menyelesaikan 42,195 kilometer dalam beberapa kali lari. Hari ini ia berlari sejauh 23 km dalam 3 jam 9 menit. Sebanyak 19 km sisanya akan diselesaikan pekan ini.

Setiap peserta lari virtual dapat menyelesaikan larinya dengan mencicil beberapa kali. Peserta kategori maraton penuh (42,195 km) dapat mencicil maksimal empat kali, setengah maraton (21,095 km) tiga kali, 10 K (10 km) dua kali, dan lari persahabatan (3,5 km) sekali. ”Euforia lari virtual memang berbeda dengan Borobudur Marathon selama ini. Agar tetap semangat, saya mencetak bib sendiri dan dipakai tadi selama berlari,” kata Kankan.

Peserta lari virtual di Magelang, Ari Sulistiyono (39), juga mencetak bib miliknya. Ini agar suasana Borobudur Marathon tetap terasa. Untuk menambah suasana serupa, ia menyusuri sebagian rute Borobudur Marathon 2019. Ia juga melewati ”tanjakan cinta”, yakni julukan bagi tanjakan yang membuat banyak pelari kepayahan tahun lalu. Tanjakan itu berada di Km 17 (rute setengah maraton) dan Km 35 (rute maraton penuh). ”Saya selesai dalam waktu 4 jam 54 menit, jauh dari target semula, yaitu 4 jam,” kata Ari.

Sejumlah pelari berolahraga di kawasan Sudirman Central Business District, Jakarta, Minggu (15/11/2020) pagi. Beberapa dari mereka adalah pelari virtual Borobudur Marathon 2020.

 

Salah satu tantangan yang ia hadapi ialah cuaca panas. Menurut weather.com, suhu udara di Magelang hari Minggu ini mencapai 30 derajat celsius dengan kelembaban 87 persen.

Kendati Borobudur Marathon tahun ini tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya, para pelari virtual tetap bertekad berlari hingga finis. Mereka berharap bisa berkumpul kembali di Magelang setelah pandemi.

 

Sumber :  https://www.kompas.id/baca/gaya-hidup/2020/11/15/lari-dalam-senyap-agar-seperti-pelari-elit/?utm_source=external_kompascom&utm_medium=berita_terkini&utm_campaign=kompascom