July 3, 2022

Artha Zone

Created & modified by m1ch3l

Menkeu: Pertumbuhan Kredit Lemah, Ekonomi “Pingsan”

Salah satu pusat perbelanjaan di DKI Jakarta yakni Ashta Mal di kawasan SCBD District 8 Senayan Jakarta mulai dikunjungi oleh masyarakat umum saat pembukaan hari pertama pada Rabu (11/11/2020). (Foto: Beritasatu Photo)

Selasa,   8 Desember 2020 |   15:54 WIB
Oleh : Herman / FMB

 

Jakarta, Beritasatu.com – Untuk memberikan dorongan yang siginifikan bagi perkonomian Indonesia agar tidak semakin lama “pingsan”, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mendorong agar penyaluran kredit kembali ditingkatkan. Sebab pemulihan ekonomi Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan APBN saja, tetapi juga harus didukung oleh penyaluran kredit untuk menggerakkan usaha.

Dikatakan Menkeu, saat ini pertumbuhan kredit terus melemah yang berada di kisaran 0%. Bahkan per Oktober 2020, pertumbuhan kredit terus melambat hingga terkontraksi 0,47%.

“Pertumbuhan kredit yang sangat lemah tidak akan mungkin mendorong ekonomi kita, dan ekonomi tidak mungkin hanya didorong dengan APBN sendiri. Maka dalam situasi seperti sekarang ini, kita harus kembali atau berupaya bagaimana sektor-sektor keuangan dan korporasi kembali bisa melakukan bisnisnya secara hati-hati, namun harus mulai pulih,” kata Sri Mulyani dalam acara “Business, Finance & Accounting Conference”, Selasa (8/12/2020).

 

Bila kondisi penyaluran kredit terlalu lama “pingsan”, Menkeu mengatakan ekonomi Indonesia juga akan ikut “pingsan”. Sehingga antara sektor keuangan dan korporasi harus berani mulai memberikan atau mengambil kredit.

“Harus segera siuman dan pulih. Artinya sektor keuangan harus mulai memberikan kredit, dan korporasi berani mengambil kredit. Kalau dua-duanya atau yang satunya tidak berani mengambil kredit dan yang satunya tidak berani memberikan kredit, maka ekonominya akan pingsan,” ujarnya.

Dikatakan Menkeu, saat ini pemerintah bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) telah mencoba memformulasikan strategi untuk bisa mendorong percepatan pemulihan ekonomi atau bisa segera siuman.

Misalnya saja memberikan relaksasi kepada usaha kredit berupa penundaan pembayaran pokok kredit selama enam hingga sembilan bulan. Untuk usaha kecil, bunganya juga disubsidi oleh pemerintah, sehingga pelaku usaha ini tidak mengalami tekanan dalam membayar kredit.

“Kita juga memberikan yang disebut jaminan pinjaman modal kerja. Ini supaya sektor jasa keuangan terutama bank berani memberikan kredit, dan perusahan juga berani untuk meminjam. Kita melakukan dari kredit yang kecil sampai menengah,” kata Sri Mulyani.

 

 

Game Changer
Rencana vaksinasi Covid-19 mulai 2021 juga diharapkan Sri Mulyani akan menjadi game changer pemulihan ekonomi. Namun karena proses vaksinasi dilakukan secara bertahap, penerapan protokol kesehatan melalui 3M (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak) harus tetap dijalankan.

Selain vaksin Covid-19, game changer kedua adalah berbagai reformasi struktural, salah satunya melalui Omnibus Law Cipta Kerja.

“Perubahan-perubahan di bidang bagaimana kita mendukung kegiatan ekonomi, yang meningkatkan produktivitas, inovasi, ease of doing business, ini menjadi luar biasa penting. Omnibus Law inilah yang kita coba untuk meng-address isu-isu fundamental, utamanya penurunan dari perizinan atau kemudahan berusaha,” kata Sri Mulyani.

 

Sumber :  https://www.beritasatu.com/ekonomi/707379/menkeu-pertumbuhan-kredit-lemah-ekonomi-pingsan