July 8, 2026

Artha Zone

Created & modified by m1ch3l

Batik Dedaunan Rempang Tembus Pasar Internasional, Bukti UMKM Pesisir Mampu Dongkrak Ekonomi Warga

Penulis  redaksi   – Selasa, 07/07/2026 – 14:50 WIB

NUSANTARANEWS.ASIA, BATAM – Produk batik berbahan alami karya masyarakat Rempang menjadi salah satu daya tarik dalam pameran UMKM pada kegiatan Sinergi Percepatan Pengentasan Kemiskinan Pesisir bertema “Makmur Bersama Presiden Prabowo” yang digelar di Batam, Selasa (7/7/2026).

Keikutsertaan para pelaku usaha mikro tersebut menjadi bukti bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir melalui pengembangan UMKM mulai menunjukkan hasil positif.

Salah satunya terlihat dari produk Batik Dedaunan Rempang yang merupakan binaan PT. Makmur Elok Graha (MEG), yang memanfaatkan kekayaan alam sekitar sebagai bahan utama dalam proses produksinya.

Faiz, perajin Batik Dedaunan Rempang, menjelaskan bahwa motif batik yang dihasilkan berasal dari berbagai jenis daun yang banyak ditemukan di kawasan hutan dan ekosistem mangrove Rempang.

“Kami banyak menggunakan daun-daunan yang ada di sekitar lingkungan kami. Ada daun dari kawasan mangrove, daun ketapang, daun kari, dan berbagai jenis daun lainnya yang menghasilkan motif alami yang unik pada kain,” ujar Faiz saat ditemui di lokasi pameran di Sembilang, Batam, Provinsi Kepri.

Menurutnya, teknik yang digunakan merupakan metode ecoprint, yaitu memindahkan bentuk dan warna alami daun ke atas kain tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya. Selain menghasilkan produk bernilai seni tinggi, teknik tersebut juga ramah lingkungan dan sejalan dengan konsep ekonomi hijau yang kini semakin diminati pasar.

Faiz menjelaskan, proses pembuatan batik dimulai dengan mencuci dan merendam kain terlebih dahulu. Setelah itu, daun-daun pilihan disusun di atas kain, kemudian ditutup dengan lapisan kain lain sebelum digulung dan diikat rapat.

“Setelah digulung rapat, kain kemudian dikukus sekitar empat jam. Kalau proses pengerjaannya lancar, satu lembar kain bisa selesai dalam satu hari,” jelasnya.

Produk batik tersebut dipasarkan dengan harga sekitar Rp250 ribu per lembar. Meski berasal dari usaha rumahan, produk mereka telah menarik perhatian pasar yang lebih luas, bahkan hingga mancanegara.

Faiz mengungkapkan bahwa pengembangan usaha batik ecoprint di Rempang mendapat dukungan dari kalangan akademisi. Melalui kerja sama dengan Universitas Internasional Batam (UIB), produk-produk batik tersebut diperkenalkan ke berbagai daerah hingga luar negeri.

“Kami mendapat pendampingan dari pihak UIB. Salah satu profesor yang membantu promosi produk kami sering membawa contoh kain ke luar negeri. Bahkan saat beliau ke Jerman, ada beberapa lembar kain kami yang terjual di sana,” katanya.

Keberhasilan tersebut menjadi motivasi bagi para perajin untuk terus meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi agar mampu memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang.

Di balik berkembangnya berbagai usaha masyarakat tersebut, terdapat program pembinaan yang dilakukan oleh PT Makmur Elok Graha (MEG) sebagai bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi warga.

Pembina UMKM,Januar Ari Setiomo, Community Development MEG, mengatakan saat ini pihaknya membina sekitar 26 UMKM yang berada di kawasan Rempang Eco City.

“Sekarang ada sekitar 26 UMKM yang kami bina. Jenis usahanya beragam, mulai dari makanan dan kuliner, kerajinan tangan, hingga produk kreatif seperti batik dan berbagai kerajinan berbasis budaya lokal,” ujar Januar.

Ia menjelaskan, program pembinaan tersebut bertujuan membantu masyarakat meningkatkan kemampuan usaha dan memperluas peluang ekonomi, terutama bagi warga yang telah menempati kawasan permukiman baru.

Menurutnya, pembinaan dilakukan tidak hanya dalam aspek produksi, tetapi juga mencakup pengembangan kualitas produk, pemasaran, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

“Tujuan awalnya adalah bagaimana masyarakat bisa tumbuh dan mandiri. Kami ingin masyarakat memiliki usaha yang berkembang sehingga pendapatan mereka meningkat dan kesejahteraan keluarga juga ikut naik,” katanya.

Selain pendampingan usaha, PT MEG juga membantu membuka akses pasar bagi produk-produk UMKM binaan. Saat ini hasil produksi masyarakat tidak hanya dipasarkan di kawasan Rempang Eco City, tetapi juga telah masuk ke sejumlah lokasi strategis di Kota Batam.

“Pasarnya sudah ada di Rempang Eco City sendiri dan juga di Batam. Beberapa produk sudah dipasarkan melalui rumah makan dan sejumlah supermarket,” jelas Januar.

Sebagaimana diketahui, pengembangan UMKM berbasis sumber daya lokal dinilai menjadi salah satu strategi efektif dalam mempercepat pengentasan kemiskinan di wilayah pesisir.

Dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia di lingkungan sekitar, masyarakat dapat menciptakan produk bernilai tambah tanpa harus bergantung pada sektor ekonomi tradisional semata.

Batik dedaunan yang dihasilkan warga Rempang yang merupakan binaan PT Makmur Elok Graha (MEG) menjadi contoh bagaimana kekayaan alam dapat diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi tinggi. (Iman Suryanto)