October 13, 2026

Artha Zone

Created & modified by m1ch3l

ESG dan Praktik Keberlanjutan: Dari Tambling hingga Operasional Artha Graha Network

ESG dan Praktik Keberlanjutan: Dari Tambling hingga Operasional Artha Graha Network

ESG lebih tepat dilihat sebagai cara berpikir dalam menjalankan bisnis.

Red: Friska Yolandha

Oleh: Heka Hertanto

REPUBLIKA.CO.ID, Dunia usaha saat ini tidak lagi hanya berbicara mengenai pertumbuhan, keuntungan, dan ekspansi. Perusahaan juga dituntut untuk memahami bagaimana kegiatan operasionalnya memberikan dampak terhadap lingkungan, masyarakat, serta bagaimana bisnis tersebut dikelola secara bertanggung jawab.

Dalam konteks inilah konsep Environmental, Social, and Governance (ESG) semakin relevan. ESG merupakan seperangkat standar atau kerangka yang dapat digunakan perusahaan untuk melihat dan mengukur dampak keberlanjutan serta etika dari kegiatan operasionalnya, yang mencakup aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola.

ESG seharusnya tidak dipahami hanya sebagai istilah dalam laporan perusahaan atau sebagai respons terhadap tuntutan pasar. ESG lebih tepat dilihat sebagai cara berpikir dalam menjalankan bisnis: bagaimana perusahaan dapat terus bertumbuh, namun pada saat yang sama tetap menjaga lingkungan, memberikan manfaat bagi masyarakat, dan menjalankan kegiatan usahanya dengan tata kelola yang bertanggung jawab.

 

Memahami Tiga Pilar ESG

ESG terdiri dari tiga pilar utama, yaitu Environmental, Social, dan Governance. Aspek Environmental atau lingkungan berkaitan dengan bagaimana perusahaan mengelola dampak kegiatan bisnisnya terhadap alam. Hal ini dapat mencakup penggunaan energi dan air secara efisien, pengelolaan limbah, pengurangan emisi, pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab, hingga konservasi hutan dan keanekaragaman hayati.

Dalam konteks Artha Graha Network, perhatian terhadap lingkungan dapat dilihat antara lain melalui keberadaan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di Lampung. Kawasan konservasi ini menjadi salah satu contoh bagaimana upaya menjaga hutan, satwa, dan ekosistem dapat dilakukan secara berkelanjutan. Pengelolaan kawasan Tambling bersama Artha Graha Peduli telah berlangsung sejak 1996 dan menjadi bagian dari komitmen jangka panjang terhadap pelestarian lingkungan. Keberlanjutan lingkungan tidak hanya berbicara tentang kawasan konservasi yang luas. Prinsip tersebut juga perlu hadir dalam kegiatan operasional sehari-hari di lingkungan unit usaha.

Tentunya tidak semua unit usaha yang bernaung dibawah Artha Graha Network (AGN) memiliki keunggulan lingkungan seperti yang dimiliki oleh TWNC. Akan tetapi konsep menjaga Lingkungan hijau untuk mendukung Lingkungan hidup tetap dapat dilaksanakan oleh unit usaha tersebut. Pemeliharaan taman dan ruang terbuka hijau, misalnya, dapat menjadi bagian dari praktik sederhana tetapi penting. Penghematan air menjadi bagian penting dalam melakukan pengelolaan Lingkungan tersebut mengingat saat ini sumber air menjadi sangat sedikit dan perlu dijaga.

Penggunaan air perlu dikelola secara bijak dan efisien sehingga memungkinkan untuk dapat dimanfaatkan kembali, contohnya dapat dipergunakan untuk kebutuhan penyiraman taman. Dengan pendekatan tersebut, upaya menjaga lingkungan tidak hanya dilakukan melalui program besar, tetapi juga melalui kebiasaan dan sistem pengelolaan sumber daya yang efektif dan efisien untuk kegiatan operasional seperti yang sudah dilakukan di Kawasan SCBD.

Pilar kedua adalah sosial, didalam pilar ini melihat bagaimana perusahaan memberikan dampak positif kepada masyarakat secara umum maupun secara khusus yaitu yang tinggal di Lingkungan sekitar tempat unit usaha AGN berkantor. Implementasi aspek sosial dalam ESG memberikan manfaat langsung bagi perusahaan, yaitu dalam membangun hubungan yang erat dengan masyarakat terutama dalam hal kesejahteraan, keselamatan dan Kesehatan. Kepedulian terhadap masyarakat ini tentunya akan membawa dampak positif bagi perusahaan. Secara terus menerus unit usaha AGN membina hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar dengan berbagai kegiatan seperti pembagian sembako kepada masyarakat dan pelayanan Kesehatan untuk membantu kepada masyarakat

Pilar ketiga adalah governance, atau tata Kelola yang mencakup, transparansi, akuntabilitas, kepatuhan terhadap hukum dan regulasi, pengendalian internal, manajemen risiko, etika bisnis, serta proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Tata kelola yang kuat membuat prinsip keberlanjutan tidak bergantung pada program tertentu atau individu tertentu. Ia menjadi bagian dari sistem dan budaya perusahaan.

Pada akhirnya, ESG bukan sekadar istilah baru dalam dunia bisnis. ESG adalah cara untuk melihat kembali bagaimana perusahaan menjalankan kegiatan usahanya dan bagaimana pertumbuhan bisnis dapat berjalan berdampingan dengan kepentingan lingkungan dan masyarakat.

Bagi Artha Graha Network, semangat tersebut dapat terus diperkuat melalui kegiatan di berbagai lini, mulai dari konservasi di Tambling, pengelolaan lingkungan di kawasan operasional, pemeliharaan ruang hijau, efisiensi sumber daya, hingga berbagai kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat melalui lima pilar Artha Graha Peduli.

Keberlanjutan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat dimulai dari bagaimana kita menjaga lingkungan tempat kita bekerja, menggunakan air dan energi secara bijak, memperlakukan masyarakat dengan baik, serta memastikan setiap kegiatan dilakukan dengan tata kelola yang bertanggung jawab.

Karena pada akhirnya, bisnis yang berkelanjutan bukan hanya tentang seberapa besar perusahaan dapat tumbuh, tetapi juga tentang seberapa besar nilai positif yang dapat terus dijaga, diberikan, dan diwariskan kepada lingkungan, masyarakat, dan generasi berikutnya.

.

https://opini.republika.co.id/berita/tmom0y370/esg-dan-praktik-keberlanjutan-dari-tambling-hingga-operasional-artha-graha-network-part2